Minggu, 06 Januari 2013

Set Fire To The Rain

Cerita ini terinspirasi dari sebuah lagu luar biasa yang dipopulerkan oleh Adele.

Pagi yang indah ini memang bukan pagi yang indah untukku. Baru saja aku tecabik-cabik oleh kenyataan yang sudah Tuhan berikan padaku 20 menit yang lalu. Aku baru mengerti, baru memahami, baru mengenali, dan baru tahu semuanya, tapi seakan itu semua lenyap tanpa bekas. Aku masih menyimpan kenangannya, dan aku mulai ingin sekali melupakannya. Sungguh sakit untukku, mengharapkan seseorang yang takkan pernah mungkin kembali padaku.

“Hana, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Kata Vino dua tahun yang lalu sebelum kami menjalani hubungan ini. “Ada apa, Vin?” jawabku dengan tak yakin. “Aku…aku…aku mencintaimu, Han.” Dengan gagap Vino merespon pertanyaanku. “Aku ingin kau jadi kekasihku, Han.” Tambah Vino. “Beri aku waktu dua minggu, Vin. Aku masih belum bisa menjawabnya sekarang.” Jawabku. Sesungguhnya, aku langsung ingin menjawab…tapi aku tak yakin dengan jawabanku ini. Ingin rasanya aku mengulang saat-saat bersamanya. Mungkin dua minggu lagi aku akan mengerti apa definisi dari semua ini.

Ternyata kurang dari dua minggu aku sudah menjawab kemauan Vino. Aku menerimanya, dan pada saat itu juga aku dan Vino berpacaran. Aku senang, mungkin tak bisa lagi ku ungkapkan semuanya dengan kata-kata, mungkin juga jika ku ceritakan…akan tak cukup jika hanya satu hari penuh.

Tak lama setelah kami berpacaran, kira-kira setelah dua bulan lamanya…ia menghilang begitu saja. Aku hanya tak mengerti, nomor handphone nya pun tak aktif. Aku datang ke rumahnya, dan tak ku temui tanda kehidupan di sana. Sempat aku mengira ia telah mempermainkan aku. Ia selalu menang jika harus memainkan perasaanku, membolak-balikkan kenyataan, dan mengungkapkan kebohongan. Entah, apalagi hal yang harus aku ketahui darinya. Aku biarkan ia melakukan apa yang membuatnya senang. Tanganku terlalu keras untuk membunuhnya, dan badanku terasa lemah saat bersamanya. Aku tak mampu, Tuhan.

Sampai semuanya telah kuanggap berakhir, ia datang untuk menemuiku setelah dua tahun tak lagi bertemu dengannya. Ia hanya berkata, “Don’t ever give up on me.”. Dan seperti biasa ia memberikan uraian kata-kata manis yang membuat hatiku luluh seketika layaknya lilin. Aku tak bisa jika harus tanpanya. Tak ada lagi kata yang bisa kuucapkan selain ku jawab dengan senyuman.

Suatu saat, ku temukan surat dalam laci kamarku. Hanya bertuliskan ‘untuk : Hana’. Baiklah, ku baca surat itu pelan-pelan, tapi tiba-tiba air mataku menetes dengan mudahnya. Tanganku gemetar, tubuhku berkeringat dingin. Entah apalagi rencana Tuhan…

Garut, 6 Juli 2003

Hana, aku sudah membuatmu cemas atas ketidakhadiranku di waktu ulang tahunmu. Aku sebenarnya harus transplantasi jantung ke luar negeri. Aku mempunyai kelainan jantung yang mungkin baru sekarang ku beri tahu padamu. Aku tak tahu lagi harus berkata apa padamu, terimakasih karena kau masih bersedia menungguku. Tapi maaf, mungkin saat kau baca surat ini aku sudah melihatmu dari langit. Maafkan semua kesalahanku, Hana. Jangan pernah menangis karnaku lagi. Terimakasih atas kenangan yang telah kau beri selama ini. Aku akan selalu mencintaimu.

Vino

Semenjak hari itu, aku tak kuasa menahan tangis ini. Aku tak mampu mengingat saat pertama kami bertemu, saat kami tertawa bersama, saat semuanya kami lakukan bersama… Wajahku pucat karena sudah dua hari itu aku tak makan. Aku datang ke pemakaman Vino, sungguh aku tak tahan. Aku ingin meneriakkan namanya dan terjun ke jurang yang paling curam agar aku bisa merasakan terbang bersamanya. “Terima kasih, Tuhan. Kau ambil dia, kau buatku jatuh seketika, kini kiranya kuanggap kau harus mengambilku juga.” Entah setan apa yang sedang merasuki tubuhku, sejirat pisau yang amat tajam melukai tanganku. Ayah dan ibuku tahu, dan langsung membawaku ke rumah sakit. Tapi, Tuhan memang sedang ada di pihakku. Ia mengabulkan semua mauku. Hari itu juga aku meninggal dunia dan makamku berada di dekat makam Vino. Semua keluargaku menangisi kepergianku, tapi bagaimana pun cara ku untuk pergi, hanya Tuhan yang bisa mengaturnya. Suatu saat kalian juga akan menemuiku, di belahan bumi yang lain.

sumber: http://clarissawindy.tumblr.com/page/2

0 komentar:

Posting Komentar