Minggu, 06 Januari 2013

Bahagia Itu Sederhana

Setelah sekian lama aku hidup dalam kegelapan, akhirnya aku sudah bisa melihat lagi sang surya yang amat cerah pagi ini. Kasih sayang orang-orang di sekitarku yang menyeruak menggenggam lembaran buku harianku yang mulai ku tulis ini. Aku senang bisa berkumpul bersama mereka, melihat senyum dan tawa mereka, serta mengungkapkan isi hatiku pada mereka tanpa aku melihat dalam gelap. Padahal, sebelumnya…aku merasa diasingkan dalam keluarga ini. Aku merasa buta akan segalanya.

Suatu hari, aku mengalami perdebatan yang amat luar biasa dengan kedua orang tuaku. Mereka terlalu menganggap apa yang mereka lakukan adalah hal terbaik yang mereka lakukan untukku. Aku mengerti maksud mereka, aku mengerti obsesi mereka, aku mengerti cita-cita mereka. Itu cita-cita mereka, dan sama sekali bukan cita-citaku. Mereka menyuruhku untuk masuk ke sebuah fakultas hukum, yang sangat aku benci jika aku masuk ke dalamnya. “Aku hanya ingin hidup bahagia dengan cita-cita yang aku impikan, Ayah! Bukan cita-cita yang Ayah dan Ibu impikan..” ucapku dengan sangat tegas pada mereka. Sesungguhnya, aku ingin masuk ke sebuah fakultas jurusan arsitektur. Hanya saja, mereka tak pernah mengerti.

Sampai pada suatu hari, aku bergegas untuk pergi dari rumah ini pada malam hari. Aku berlari dan tak tahu lagi harus pergi ke mana. Entah ada angin apa yang membuatku lari terlalu cepat sehingga….aku ditabrak sebuah truk pengangkut semen. Dibawanya aku ke dalam rumah sakit yang cukup besar, dan peralatannya cukup memadai oleh supir dari truk tadi. Mungkin jika ia berniat meninggalkanku, aku bisa langsung meninggal dengan banyak luka pada sekujur tubuhku. Kemudian orang itu yang aku tak tahu siapa namanya, langsung menggendongku ke ruang UGD. Pucat sekali wajahnya yang terlihat kelelahan itu.

Tidak lama setelah itu, kedua orang tuaku melihat keadaanku yang bergolek lemah di dalam ruang UGD. Mereka menangis seolah-olah mereka tak berdosa, berpura-pura kasihan terhadapku. Aku hanya tak mengerti akan sikap mereka yang berlebihan itu. Kemudian para perawat segera memindahkanku ke ruang perawatan. Saat itu, aku hanya terbaring dengan keadaanku yang tak kunjung mendapati sebuah kemajuan, karena aku masih dalam keadaan koma dan mataku yang tertutup perban.

Selama aku sakit, aku hanya dirawat oleh para perawat dan dokter. Orang tuaku hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Hanya saja aku kesal, aku ini seperti orang asing yang tak perlu mereka khawatirkan. Mungkin mereka sedang mengumpulkan dana untuk biaya rumah sakit yang nantinya pasti akan membengkak karena keadaanku yang hingga kini yang kunjung siuman.

Tiga bulan sudah lewat, dan aku mencoba untuk lepas dari jeratan mau yang ada di depanku. Aku mencoba menggerakkan tanganku, tapi aku sama sekali tak bisa membuka mataku, semuanya gelap. Seorang perawat memanggil salah seorang dokter. Dokter segera memeriksa keadaanku, dan perban yang melekat pada mataku kemudian ia buka pelan-pelan di depan ayah dan ibuku yang kebetulan sedang menjagaku. Namun, aku tak mendapatkan cahaya pada mataku, semuanya gelap sekali. “Dokter, apa yang dokter lakukan pada mataku ini!!!” aku berteriak hingga mengejutkan setiap orang yang ada di tempat itu. “Maaf, Luna. Kamu buta…kami masih menunggu donor mata di rumah sakit ini.” dengan mudahnya dokter mengatakan hal itu. Lagi-lagi orang tuaku menangis, entah aku tak tahu kali ini mereka berpura-pura atau tidak.

Satu minggu kemudian, aku pulang ke rumah yang masih menjadi penjara bagiku. Aku hanya bisa termenung, termenung untuk keadaanku yang masih menunggu seseorang untuk mendonorkan matanya. Menghitung hari-hari dengan sinar fajar yang tak dapat lagi ku lihat. Aku menunggu… menunggu dan menunggu terus donor mata itu. Dengan kesabaran yang begitu mendalam, aku terima semua cacian orang-orang karena kebutaanku ini.

Suatu saat, ketika aku berjalan di sebuah jalan raya, segerombolan pria bertubuh besar hampir ingin merampok seluruh isi dompetku. Aku tak berdaya menahan tasku yang hendak mereka rebut dari genggamanku. Aku berteriak, aku minta pertolongan, dan tak ada yang kunjung mendekat untuk menolongku. Tiba-tiba seorang pria yang seumuran denganku memukul lelaki-lelaki bejat yang hampir menancapkan goloknya ke perutku. Sambil menangis, aku mencari tongkatku untuk mencoba berlari dari mereka semua. Tetapi laki-laki yang menolongku itu langsung meraih tanganku. “Jangan pergi, tolong aku!” ucapnya seperti menahan sakit. Aku tak tahu apa yang ia sedang rasakan. Aku segera minta pertolongan kepada orang sekitar untuk membawanya ke rumah sakit.

Aku cemas, dan tak bisa berpikir apa-apa lagi. Jika aku pergi, aku sama saja seperti pengecut yang mengkambinghitamkan orang lain. Maka, ku putuskan untuk tetap berada di rumah sakit itu. Setelah beberapa jam aku menunggu laki-laki yang menolongku itu, ternyata ia menyuruhku untuk menjenguknya dan aku pun masuk ke dalam ruang rawatnya. “Hai, maaf ya tadi aku merepotkanmu..” kata laki-laki itu yang kedengarannya sangat lelah. “Iya, terimakasih juga kamu sudah menolongku.” jawabku. Sebelum aku meninggalkannya, ia hanya menitipkan sebuah surat. Warnanya merah muda dan ia menulisnya dengan sangat lembut sehingga aku tak bisa membacanya. Yang aku dengar ialah… “Bacalah surat ini jika nanti kau sudah bisa melihat dunia yang indah ini”.

Setelah sebulan lamanya aku tak bertemu lagi, aku menerima kabar bahwa aku akan segera dioperasi di rumah sakit tempat laki-laki tadi dirawat. Namun, aku tak pernah tahu hingga saat ini ia masih dirawat atau tidak. Yang aku tahu, ia hanya memberikan surat terakhirnya untukku dan aku pun tak tahu apa isi dari surat itu. Laki-laki itu hilang bagaikan ditelan bumi dan hanyut diterpa badai.

Ibu mengantarku ke rumah sakit itu, dan mengurus semua biaya administrasinya dengan cepat karena kebetulan keluargaku adalah keluarga yang cukup mampu. Operasi berjalan dengan lancar. Aku amat tak sabar untuk membaca surat itu.

Perban pada mataku sudah dokter perbolehkan untuk dibuka setelah satu bulan lamanya. Dan, waktu satu bulan yang sangat lama bagiku, akhirnya tiba juga. Perbanku sudah dibuka, dan perlahan aku mulai membuka mataku. Awalnya memang sangat gelap, tapi kelamaan…cahaya mulai muncul. Aku mulai bisa melihat wajah ibuku, ayahku, dokter, dan perawat rumah sakit itu. Dengan amat bahagia, aku memeluk ayah dan ibuku. Setelah itu, aku segera membuka laci yang ada pada kamar rawatku untuk mengambil surat yang ku letakkan di dalamnya. Dan ternyata isinya amat mengejutkan buatku.



Jakarta, 18 Desember 2007

Untuk Kekasih Masa Depanku Luna

Luna, selama ini aku telah banyak sekali mengikuti segala aktivitasmu sebelum dan setelah kau mengalami kebutaan. Aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu. Aku sangat mencintaimu sama seperti kau mencintai hidupmu. Sengaja ku tulis surat ini dan menyuruh kau membacanya setelah kau bisa melihat karena aku yakin kau takkan bisa membacanya tanpa dibacakan orang lain dan aku hanya ingin kau membacanya sendiri, Luna.

Maafkan aku karena aku telah meninggalkanmu begitu mudahnya. Aku mempunyai kelainan pada jantung. Sengaja aku tak meminum obat dari dokter supaya aku bisa mendonorkan mataku untukmu dan membawa mataku sampai mati. Karena, ku pikir begitu sulit untuk mendapatkan cintamu yang hanya untuk seorang lelaki yang tak tahu diri meninggalkanmu demi wanita lain. Aku tak bisa melihatmu terus meratapi kebutaanmu. Jika kelak aku pergi, tolong jaga mata itu dengan baik. Dan aku harap, setelah kau baca surat ini, kau mau menjengukku ke tempat kediamanku yang paling tenang. Terimakasih sudah menjadi inspirasi yang kuat dalam hidupku, Luna. Aku mencintaimu.

Sincerely,

Raka

Surat terakhir dari sahabatku Raka yang amat ku sayangi. Ternyata selama ini ia… aku hanya tak bisa terima keadaan sahabat karibku. Sesungguhnya aku juga mencintainya, tapi mengapa Kau ambil dia, Tuhan? Mungkin ini caramu memberikan kebahagiaan yang tak pernah ku duga sebelumnya. Terima kasih, Raka. Karena kau, aku bisa melanjutkan kuliahku di jurusan arsitektur. Karena kau, aku bisa melihat dunia yang indah ini lagi. Dan karena kau juga aku sudah bisa merasakan cintamu yang abadi walaupun kau sudah tiada…

sumber: http://clarissawindy.tumblr.com/page/3

0 komentar:

Posting Komentar